Sabtu, 10 November 2012

Mau Dibawa Kemana Bakat Anak Didik Kita?


Mau Dibawa ke mana Bakat Anak Didik Kita??

Anak Indonesia terkenal pintar dan berotak cerdas?Itu benar.Banyak anak Indonesia yang berprestasi?Itu juga benar.Sebagian dari mereka sukses,tapi sebagian lagi dari mereka memenangi lomba dan akhirnya tidak sesukses saat masa kejayaannya.Ternyata nasib anak – anak cerdas ini selanjutnya tidak semuanya berakhir bahagia.Tidak semua anak bangsa ini mendapat pengarahan yang benar sesuai bakatnya untuk menunjang kesuksesan masa depannya.
Jika dilihat dari faktor mata pelajaran yang diberikan di sekolah,banyak yang harus dipelajari untuk satu jenjang pendidikan saja.Dari kecil,bahan ajaran yang seabrek terkesan dipaksakan bagi para siswa untuk dikuasai.Dalam usia yang masih belia pun juga dijejalkan berbagai mata pelajaran yang tak hanya dasar tapi juga mata pelajaran yang seharusnya baru diajarkan beberapa tahun kemudian.Misal saja seperti anak kelas 1 SD jaman sekarang,tak hanya diajari mata pelajaran dasar seperti bahasa,matematika dasar,bahkan IPA dan Bahasa Inggris yang notabene harusnya diajarkan mulai kelas 3 SD sudah diajarkan dari tingkat awal.Mungkin menyenangkan melihat perkembangan anak yang demikian pesat menguasai berbagai macam pelajaran seperti itu.Tapi tak semua keberhasilan menguasai materi itu berpengaruh baik untuk anak.Saat usia dewasa dia akan cenderung mengalami kebosanan karena telah dipaksakan dari awal untuk menguasai materi.

anak anak yang masih belia dan riang gembira

Tak hanya itu,kurikulum yang digunakan pun tak ubahnya seperti mainan.Sering diganti dan diutak atik sesuai pergantian penguasa negeri ini.Berganti Menteri,kurikulum pun dirombak.Seharusnya hal tersebut menjadi pertimbangan,kurikulum yang inkonsisten diterapkan mempengaruhi pola didik terhadap anak bangsa ini.
Bukan hanya kurikulum yang menjadi soal,banyaknya mata pelajaran yang diwajibkan di sekolah juga salah satu hal yang memberatkan dan berpengaruh besar terhadap perkembangan akademis dan bakat siswa.Sebagai contohnya,seorang siswa SMP rata – rata bersekolah dari pukul 7 pagi hingga pukul 1 siang,itu belum termasuk kegiatan ekstrakurikuler yang diambil.Bahkan untuk siswa SMA rata – rata mereka bersekolah dari jam 7 pagi hingga 2 siang dengan porsi mata pelajaran yang cukup banyak.Siswa – siswa setingkat SMA rata – rata mendapatkan 14 mata pelajaran yang semuanya wajib diikuti dan dikuasai.Dengan jam sekolah yang relatif lama dan menyita banyak waktu,bagaimana bisa siswa terfokus dengan bakat yang dimilikinya?

Waktu yang ada relatif banyak dihabiskan bukan hanya pada mata pelajaran atau bidang bakat mereka.Hal ini terkesan sia – sia diwajibkan mengikuti semua mata pelajaran diwajibkan dan sangat menyita waktu.Kurikulum pendidikan di Indonesia memang terkenal padat berisi namun kurang efektif.Jika dibandingkan dengan kurikulum yang diterapkan di berbagai negara besar di Amerika Eropa dan negara maju lainnya hal semacam itu terkesan sia – sia.Kenapa?Karena pemberian banyak mata pelajaran dan diwajibkan akan mengurangi fokus bakat siswa pada kemampuan yang dimilikinya.Lihat saja contoh konkretnya,tempat bimbingan belajar untuk mata pelajaran sekolah di Indonesia sangat menjamur bahkan banyak cabang di berbagai daerah di Nusantara.Dengan berbagai penawaran jam bimbingan dan fasilitasnya.Tapi di negara- negara barat?Jangankan bimbingan belajar,sekolah pun mereka hanya menghabiskan rata – rata 3 jam sehari waktu belajar di sekolah.Mereka memiliki banyak waktu untuk leluasa mengembangkan bakatnya dan lebih fokus.

belajar di luar negeri pun menjadi pilihan

Bagi sebagian orang yang berkocek tebal dan pergaulan kelas jenset mungkin bisa memilih untuk belajar ke luar negeri untuk mendapatkan kualitas nomer wahid bagi masa depan anaknya,tapi bagi kalangan lainnya menelan mentah – mentah kurikulum yang ada adalah pilihan satu – satunya.Mungkin dengan alasan cinta negeri sendiri dan lain sebagainya.Di lain sisi,ada banyak sekolah dan sarana pendidikan yang kurang mendapat perhatian pemerintah,ini adalah salah satu faktor kurang majunya pendidikan di Indonesia.Banyak pula anak berbakat tetapi kurang mampu secara finansial minim perhatian,beda dengan anak kalangan terpandang yang lebih terkesan "disayang".Padahal seharusnya si miskin yang berbakat ini bisa diarahkan sesuai kemampuan yang dimilikinya.Kepilihkasihan perhatian pendidikan di Indonesia juga jadi salah satu hal yang melemahkan mutu pendidikan kita.Banyak hal yang jelas perlu dibenahi dan diefektifkan bagi keberlangsungan masa depan putra putri bangsa ini.Peran serta orangtua dan guru serta pemerintah sangat diperlukan untuk memajukan pendidikan di Indonesia mengingat bibit – bibit unggul di negeri ini sangat banyak dan sayang untuk dikaburkan fokusnya dari bakat menonjol yang mereka miliki.

putra putri harapan bangsa :)
                Alangkah lebih baiknya jika dari usia dini mereka diarahkan sesuai bakat dan minatnya dan dilatih lebih baik agar hasil untuk masa depannya lebih maksimal.Memaksakan anak menguasai banyak mata pelajaran yang bukan bidang kemampuannya mungkin menambah wawasan dan kecerdasan,tapi perlu diingat itu sangat mengurangi fokus anak terhadap bakat menonjol yang dimilikinya.Dengan peran serta orangtua,para guru dan pemerintah dalam mengambil kebijakan yang terkait dengan dunia pendidikan,bukan tidak mungkin anak bangsa ini semakin membahana di mata dunia dengan profesi sesuai keahlian yang dimilikinya untuk turut serta membangun bangsa.

1 komentar:

Aulawi Ahmad mengatakan...

menarik tulisannya, belajar bagaimanapun memang ada prosesnya :)