Rabu, 29 April 2015

Ketep Pass



   Sebagai orang Magelang (pinggiran), belum pernah ke Ketep Pass adalah aib. Untungnya aib itu sudah berlalu 2013 lalu. Minggu kemarin adalah kali keduaku berkunjung di gardu pandang itu. Ketep Pass yang dulu bukan yang sekarang. Jelas beda karena kali pertama aku kesini hanya bertujuh dan tak ada pengunjung lainnya di bulan puasa, kali kedua kemarin hampir semua sudutnya penuh sesak oleh bocah - bocah SMA yang ikut study tour. Mau nggak mau kami nyembul di antara gerombolan itu.

   
   Ketep Pass adalah salah satu destinasi favorit dan terkenal semenjak aktivitas Gunung Merapi beberapa kali begitu aktif dan memenuhi isi berita televisi hampir setiap harinya. Bukan hanya turis lokal yang hobi ke sini, ada beberapa bule terlihat berkunjung di kawasan wisata ini. Sebenernya mau ngajak ngobrol, terus ga jadi karena rame banget banyak pengunjung. :v

 
 
Anyway kemarin ada anak - anak SD perform tari Topeng Ireng bagus banget, meskipun mereka terlihat kelelahan tarian sepanjang siang tetap berlangsung. Sering sering deh ya ada perform macam ini. Biar budaya sendiri tetap lestari dan gak hilang diakui atau dicuri tetangga sendiri.





Salam dari labilnya cuaca Ketep akhir akhir ini

Cheers,
Anggi







Senin, 27 April 2015

Achieving Dream

 Achieving dreams may be hard for many people, me too. I even failed to reach my childhood dream for being a doctor and singer. As the time goes by, I’m okay and cool with those failure, seems like there’s more that come to me as I cross the different path until today. I soon become a tax officer, civil servant job which I never imagine. There are some parts of the things I call dream, my dream to study abroad that get stuck for my governmental work and being pushed back after the contract I should fulfill, the trip I always imagine in mind as a child who wants to travel the world, even my dream of having a great wedding that changes. I previously never really want to get married, but now aha it’s part of the things I should do for my future. I won’t let my generation extinct. Always said wanna get married to bule just my saying I said when I was kid . Failure and success are two different things that can never be separated from each other. People who grab the success story experienced failure before achieving success. It’s like “ Fall seven times, but stand up eight.”


    I randomly remember the things to achieve dreams in James Hooper point of view. There are three things said by one of my favourite G11 Abnormal Summit former member in episode 3 (If you are curious just google it haha). Him as the British youngest Everest climber gave three lesson about achieving his dreams.
this is James Hooper

First, is to take things step by step. If you say you want to climb Everest tomorrow, it’s impossible. But if you start with something small, climbing indoors and gradually move up. Each step by itself is very easy. But very quickly, you find that you’ve achieved your dream.
My dream is not Everest, I just wanna climb Mount Rinjani with my lifepartner someday. Part to achieve it? I’m not focusing to find partner, I’m moving up, learning new experiences, preparing my own trip, being smarter and healthier. Let’s see what happen next ~

The second thing is not to be afraid of the risk. There is risk in everything but we should see risks as an opportunity to learn and by learning we can overcome risk.
I’m getting used of failure because life is never fair. Hahaha Having more money may lead me in another path, sometimes I wonder but I don’t regret where I am now. I just have to retouch my lifeplan, provide the A, B and C plans for everything. One step closer for my solo travelling after the job placement. :D

And finally you should tell people about your dreams and what you want to achieve. No one ever achieved anything by themselves and the more people that know about what you want to do, the more people can help you achieve that.
Hello people help me achieve my dreams please. Hahaha I don’t say that but when I’m into something, people around me know it too. I’m that type of person. I have many things that I call dream. The first is that I wanna study and live in Germany, why Germany? I don’t know, since kid I dream to go there and even supporting the team every world cup match. I wanna travel around the world, being a traveler nowadays people call it, should save more money and I am going to do it. Short term is going to Korea first.  Another childhood dream is marrying a “bule”, sounds insane but let’s see If I could marry bule or “bulepotan” haha. And the last thing is send my parents to go “haji”. Aren’t those too much? I think no, because I still have many things I call dream. I dare to dream big and should learn to gain big too.

timewiser.com

 Success is not a single thing and you need to find the right type of success for you and go for it
Well then, let’s grab our success story by our own ways :D

Anggi Restiana Dewi

Jumat, 24 April 2015

Sunset Gratisan

   Sudah semenjak November aku kembali ke kampung halaman, sudah hampir enam bulan pula berjalan magangku di KPP Temanggung yang hampir setiap harinya hujan. Ya, sudah hampir enam bulan pula kondisi fisikku gampang drop karena saking seringnya kehujanan, maklum berangkat pulang nglaju jadi anak gaul motor.  Tinggal di kampung halaman dan jauh dari hiruk pikuk kota yang selama masa kuliah kujalani sudah pasti membuatku agak jarang keluyuran, ditambah cuaca di sini yang dingin, berkabut dan sering hujan. Praktis jarang ada hiburan, paling mentok ke kota pas weekend, dan lebih seringnya kondangan. Begitulah ~~
   Haus ngetrip dan kurang hiburan tapi uang di kantong pas – pasan membuatku harus memutar otak agar penantian penempatan ini tak membuatku gila duluan. Naik gunung pun batal tereksekusi karena cuaca buruk, perjalanan jauh uang tak ada, ke objek wisata terdekat sudah pernah semua. Jadilah objek hiburan utama drama Korea dan ngganguin Edgard di rumah, dan sesekali jogging keliling Grabag sampe hidung mbeler plus nafas tersengal – sengal kecapekan.  Trek jogging sepanjang jalan tak pernah membosankan, pemandangan gunung sesawahan pun dengan mudah kutemukan. Sekali dua kali tiap weekend aku juga menyempatkan diri berburu sunset dari tepian jalan. Hahaha Kalo kata orang sini mungkin aku “ kurang gawean” alias kurang kerjaan, selo banget sih Nggik sore – sore ngeliat – liat sunset di tepi jalan. Ndak papa dikatain kurang kerjaan, yang penting foto sunset yang akhirnya kudapat lumayan untuk ukuran sunset gratisan.






Lumayan kan sambil nunggu penempatan, sore – sore di kala weekend dapet pemandangan sunset gratisan yang menyenangkan untuk dilihat walaupun ga bagus bagus amat.


 Cuma butuh motoran agak jauhan pemandangan ndeso yang breathtaking bisa didapat. Ndak papa keliatannya kurang kerjaan, berburu sunset ga harus melulu ke tempat wisata yang mahal nun jauh kan?
Enjoy your sunset and keep waiting for “penempatan” hihihi

Sunset hunter,
Anggi Restiana Dewi

Danau T€man Hidup


   Namanya Danau Taman Hidup, tapi aku sengaja menyebutnya Danau Teman Hidup. Menemukan danau ini butuh berhari hari perjalanan dan camp, bukannya lebay tapi begitulah adanya. Konon katanya danau ini indah saat tak berselimut kabut seperti saat kami datangi. Di tempat ini rusa, monyet dan berbagai jenis binatang sering datang untuk minum, tapi tak kami temui sesuai harap Hanya suara monyet monyet berkelahi yang tak kami temui wujudnya di sana, kabut pun mulai turun ketika kami sampai. Sudah hampir enam bulan lamanya kaki ini tak menempuh perjalanan jauh berjalan mendaki dan gembira saat tiba waktunya masak bersama dan makan. Sudah sekian waktu lamanya sejak pendakian Argopuro berlalu, belum ada perjalanan yang benar – benar jauh setelah itu. Ingat kala itu, spot di Danau Teman Hidup adalah saksi praktik teori survival yang diajarkan kala diklat kami praktekkan dengan sukses, berbekal  remah – remah bahan sisa tepung dan bumbu yang ada kami berusaha membuat cilok (awalnya) dan gagal. Jadilah kami makan adonan tepung goreng tak karuan yang dicocol sambal kacang. Hahaha





selfie pake tripod biar gaul



   Rindu rasanya mengenang perjalanan yang sudah berlalu sekejap mata. Rindu rasanya berhari hari tak mandi karena keluar masuk hutan dan gunung. Rindu rasanya meninggalkan hiruk pikuk kehidupan dan menghilang sementara waktu. Rindu rasanya dengan senang hati menyusahkan diri menggendong beban berkilo kilogram beratnya, melangkah berkilo kilometer jauhnya, menghirup debu atau menggigil kedinginan di tenda, engsel bergeser pasca turun berlari. Rindu teriakan bahagia sampai tepi danau, foto kacau dan cemilan tepung goreng ala kadaarnya. Aku rindu semuanya.
Danau Taman Hidup, kapan lagi kita ke sana?

Anggi

Happy 3rd Anniversary STAPALA 2012


   Halo 2012, tiga tahun sudah waktu berlalu meninggalkanmu. Rasanya baru kemarin aku mengalami banyak peristiwa sepanjang 365 harimu di hidupku, rasanya baru kemarin aku menggigil kedinginan di malam hari diklat di Kencana Luhur, rasanya baru kemarin bau belerang Kawah Ratu menyengat hidung di sela – sela pelantikan STAPALA 2012. Tepat tiga tahun yang lalu, 22 April 2012 kami ber 36 dilantik menjadi anggota baru organisasi pecinta alam kampus yang namanya STAPALA. Tahun 2013 kami ikut ke pelantikan anggota baru selanjutnya, dua tahun lalu 2014 kami hanya bertujuh di posko merayakan ulangtahun angkatan dengan tumpengan, dan hari ini ketiga tahunnya angkatan ini ada tak ada perayaan yang berarti, lokasi kami sudah berbeda beda, tersebar dari Sabang sampai Merauke sana. Benar kata senior ya, waktu berkumpul lengkap memang waktu pelantikan, lain waktu bisa lengkap tak yakin kapan. Angkatan 2012 ini memang beragam jenis anggotanya, dari yang termuda D1, ada D3, D3 khusus, D4 juga ada, satu persatu sudah berkeluarga dan berbeda lagi pola hidupnya dari jaman mahasiswa, angkatan gado – gado beginilah adanya. Dibilang ga kompak ya emang iya, dibilang kompak tapi emang ga kompak kompak amat. Apapun lah itu semoga kita jadi lebih baik ya sods.

tumpengan dua tahunan anniv

ini waktu diklat lapangan, 23 Maret 2012

Pelantikan di Kawah Ratu, 22 April 2012 :D

2013



“Ketika tangan tak bisa menjabat
dan kata – kata candaan tak bisa terucap untuk membuat suasana hangat,
aku hanya ingin berdoa untuk kita menjadi lebih solid dan hebat.”

I miss you but I hate you STAPALA 2012 *hahaha*
See you in another better life journey J

With love,
Bangsal 975/SPA/2012

Selasa, 21 April 2015

Kapan kawin?

   “ Kapan kawin? Atau kapan nikah?” pertanyaan yang seringkali mulai akrab di telinga, ditambah teman seumuran mulai mengakhiri masa lajangnya, kesendirianku ini agaknya dipandang semacam sebuah dosa oleh sebagian orang. Atau mungkin aib,umur 23 kok belum nikah. Tergelitik dengan kalimat itu lagi – lagi postinganku mungkin agak berbau curhat dan yang dibahas tentang jodoh, bukan karena galau sebenarnya. Fase galauku sudah lewat tiga tahun lalu hahaha. Melewati masa kuliah, transisi dari dunia pengangguran dan masuk dunia kerja, galau galau bukan hal yang masuk dalam daftar. Fase kehidupanku sudah memasuki tahap “ mending tidur daripada galau” membuat kehidupanku lebih tenang. Dan mending nyicil belajar bahasa biar cepet ke kampus impian *beberapa taun ke depan* hahaha
   Bicara soal jodoh, kebanyakan orang biasanya bilang jodoh itu di tangan Tuhan, bisa dibenarkan tapi tidak sepenuhnya. Jodoh itu tetap diusahakan, entah dengan cara apa kita berusaha, mustahil tiba – tiba jodoh datang tanpa diundang, pasti ada sebuah kejadian yang membuatnya datang karena usaha kita. Ada yang usaha dengan pacaran dan akhirnya menikah, ada yang pacaran putus eh nikahnya sama temen atau tetangga, ada yang dijodohkan orangtua, ada yang taaruf, ada yang ga sengaja tabrakan di jalan, kenalan dan akhirnya kawin, ada yang menikah dengan teman seperjalanan, ada yang menolak dijodohkan dan akhirnya menemukan jodoh sealiran, ada yang masih nyaman sendirian tiba – tiba ketemu jodoh di perjalanan dan banyak hal lain yang mempertemukan jodoh dengan media yang entah kita sadari atau tidak itu merupakan bagian dari usaha. Ya memang jatahnya manusia berusaha, yang menentukan akhirnya kan yang di atas juga.

kapan kawin? Kapan kapaaan ~~


   Kondangan yang dulu tabu untukku, sekarang sudah semacam rutinitas, mengingat satu persatu teman sudah melepas masa lajang. Aku sih seneng – seneng aja kondangan, dandan cantik, foto – foto, mini reuni di nikahan temen itu udah bikin  seneng. Yang bikin capek itu setiap ada celetukan atau pertanyaan “ Kapan kawin?” yang entah nanya beneran atau sekedar nyindir status. Apapun jawabannya pasti salah sih, mending dijawab “doain aja” kelar deh perkara. Hahaha. Sebenernya kawin ga kawin kan itu hak tiap orang sih, dan kesiapan tiap orang berbeda. Ada yang nikah muda karena memang siap lahir batin, ada yang nikah karena emang ga tau lagi mau ngapain setelah kerja, ada yang nikahnya agak telat karena nunggu ketemu jodoh yang tepat, ada yang belum nikah karena merasa memang belum siap dan pantas, ada yang jomblo tapi dijodohin gak mau dan pengennya cari sendiri. Ya namanya orang emang beda – beda ya, diburu – buru cepet kawin cuma karena temen – temennya udah banyak yang ke pelaminan itu ga baik buat kesehatan mental lho, untungnya orangtua mah selow. Kehidupan rumah tangga setelah acara hajatan perkawinan selesai justru lebih perlu diperhatikan, cuma bergidik ngeri aja kalo takburu – buru nikah eh baru seumur jagung cerai * amit amit dah*.  Masih banyak pr dan agenda yang harus dikerjakan untukku sebagai anak pertama, daripada mikirin nikah muda nyekolahin adek dan bantuin orangtua masih dalam agenda utama, di samping travelling tentunya. Ga mau rugi dong, mumpung masih sendiri, mumpung masih bisa pergi – pergi dan belum ada yang nggondeli manfaatin waktumu. *kata mas sepupu*
   Ada pepatah yang bilang “ 20 years from now you will regret more for  the things you didn’t do.” Iyasih kalo nambah penyesalan hidup ga bakalan tenang, umur 23 sepertinya belum tepat, mungkin 3 atau 4 taun lagi. Who knows? Karena masih pengen produktif dan nabung demi masa depan, daripada keburu – buru nikah cuma karena temen – temen udah pada nikah, mending tak introspeksi diri dulu, rajin ibadah, belajar lagi, ngetrip lagi, travelling selagi ada waktu dan duit sebelum diikat status yang serius. Work hard, play hard, learn more and earn more. Happy living and keep travelling



Cheers,
Anggi

Rabu, 15 April 2015

Surat Cinta untuk Fita

Hai Fita, apa kabarmu di alam sana?
Sudahkah kamu tenang setelah meninggalkan dunia?
Semoga tempat terbaik telah kaudapat di sisi- Nya
Surat ini memang tak akan pernah sampai dan terbaca olehmu yang jauh di sana
Aku hanya ingin mengingatmu dalam tulisan yang sederhana
Sudah sebelas tahun berlalu semenjak kau tiada
Hidup orang di sekitarmu terus berjalan
Rasanya baru kemarin aku mengenalmu, belajar dan berbincang tentang banyak hal

Kita bertemu di usia yang masih muda
kanak - kanak yang masih senang bermain dengan ceria
Aku yang berisik dan cerewet, dan kau yang pendiam dengan senyummu yang khas
Kita berada di kelas yang sama selama enam tahun lamanya
Kau tau semua cerita hidupku yang amat gembira, terpuruk, bangkit dan kembali ceria
Kau juga yang tak bosan mengajakku puasa Senin Kamis dan mengingatkanku tentang besar pahala bila mengerjakannya

Senyum ramah dan ekspresi wajah sumringahmu masih sangat kuingat
Hidupku yang seperti sinetron pun kausaksikan dengan cermat
Dalam salah satu bagian terburukku saat teman sekelas berlaku tak terpuji kau dengan senang hati membantuku memunguti barang - barangku yang berceceran di lantai dengan senyum hangat
Menenangkanku dan mengatakan akan ada pembalasan untuk hal jahat yang mereka perbuat
Aku tersenyum sambil menangis setiap kali teringat

Gadis manis yang setia memakai jepit rambut ungu itu telah pergi menghadapNya
Di usia yang masih belia, waktu smp tahun pertama
Di bulan Ramadhan kala itu yang seharusnya penuh gembira berubah duka
Untuk teman yang kini tak lagi bisa kujumpa
Semoga amal ibadah yang akan membawa kita di pertemuan selanjutnya

 tertanda,
Anggi Restiana