Kamis, 12 Mei 2016

Gumuk Pasir Parangkesumo, gurun pasir di tengah negara tropis

   Halo Jogjakarta, setelah sekian lama tak bersua aku berkesempatan untuk kembali ke kota ini lagi untuk transit sebelum kembali ke kaki gunung Andong yang jadi kampung halaman. Pagi yang mulai menghangat di Solo mengantarkanku ke stasiun untuk antri membeli tiket kereta Pramex yang akan membawaku ke Jogja. Naik becak kayuh yang cukup menguras tenaga si bapak becak, berterimakasih, membayar dan tersenyum aku masuk ke stasiun. Antrian di stasiun cukup lumayan, maklum untuk warga Jogja Solo mobilitas menggunakan kereta adalah kebutuhan.
Dengan tiket seharga 8ribu rupiah dan kenalan kenalan baru perjalananku ke Jogja dimulai. Tiba di stasiun Tugu kala panas menyengat dan seharian hanya keluar keliling kota. Perjalanan ke Gumuk Pasir dimundurkan ke hari berikutnya karena seharian cuaca Jogja hujan panas tak karuan.
Naik motor sepagi mungkin (rencananya), tapi akhirnya berangkat setelah matahari mulai meninggi. Boncengan dengan Disti, host Couchsurfingku di Jogja yang akrabnya sudah seperti sahabat lama bermodalkan GPS kami menuju gumuk pasir Parangkusumo. Adventure girls aren't afraid to burn the skin, let's be exotic! haha

DSC_3150

Gumuk pasir yang panas dan silau dipandang mata dari jauh tak menghalangi kegembiraan kami untuk berjalan di area tersebut. Gurun pasir mini ini ada di daerah tropis, lumayan tak perlu jauh jauh ke gurun Sahara untuk melihat hamparan pasir luas ini. Walaupun luasnya tak seberapa dibanding gurun yang sebenarnya lumayanlah untuk ukuran negara tropis ada gurun kecil semacam ini.

IMG_20160504_134353

Di areal gumuk terdapat rerimbunan pohon yang bisa digunakan berteduh setelah panas panasan berfoto, ada hammock yang bisa digunakan bersantai. Matahari semakin tinggi, setelah berpanas di area gumuk, sebutir kelapa muda bisa meredakan dahaga dan mendinginkan kepala. Foto kelar, perut kembung , tapi hati riang gembira.

IMG_20160504_120504     IMG_20160504_125101

Terimakasih Disti, terimakasih Jogja
Cheers,
Anggi Restiana

Rabu, 11 Mei 2016

    Setelah meninggalkan Nganjuk dan beranjak menuju Solo dengan kereta eksekutif ( yang baru pertama kunaiki) liburan baru benar - benar dimulai. Tas punggung yang kian berat berisikan cucian kotor dan serba serbi pakaian untuk kondangan tak menghalangi niatku untuk mampir mampir ke kota yang kulewati sebelum pulang ke rumah. Dua kota yang terkenal sebagai kota budaya, Solo dan Jogja adalah kota yang kusinggahi sebelum kembali ke tanah kelahiran, Magelang. Seusai kondangan yang menguras tenaga dan pikiran (mulai kepikiran), mampir di Solo dan ada tempat berteduh untuk dua malam adalah hal yang menyenangkan. Aku dan Arum check out dari hotel pukul 2 siang, melanjutkan perjalanan kami jajan di sekitaran kota Nganjuk sampai perut nyaris meledak karena kekenyangan dan kengerian setengah seru karena naik becak yang luar biasa dengan beraninya melawan arah. Sereem wak!

IMG_20160501_145945_1
    Bersama kereta Sancaka sore yang membawa kami meninggalkan Nganjuk, kantuk mulai datang. Pasang headset (yang harganya lima ribuan) masing masing sambil merem merem mendengarkan lagu yang terngiang di telinga, kami tertidur pulas hingga perjalanan nyaris mencapai Solo kota.
 IMG_20160501_204047

Menginap di rumah Arum yang ada di pusat kota memang menyenangkan, dekat mau ke mana - mana. Tambah suasana kota yang tak terlalu macet membuat perjalanan kami lebih efisien ( karena naik motor sih, jadi gampang terobos jalan kemana mana). Solo one day trip dimulai dari Keraton Surakarta yang cuma tinggal ngesot dari blok rumah Arum. Pepohonan rimbun di cuaca Solo yang mulai memanas setidaknya menyelamatkan kami para pengunjung dari sengat matahari yang menyengat. Selamat datang di Solo! Lelah berjalan keliling keraton kami jajan es ronde dan es dawet di seberang jalannya. Terharu lah makan di Solo murah - murah, unlike Balikpapan.

IMG_20160502_095552 benda bersejarah di Keraton Surakarta yang tetap dijaga kelestarianya
  IMG_20160502_095609IMG_20160502_094441
serba serbi benda unik di keraton Surakarta

IMG_20160502_095753 IMG_20160502_102508 IMG_20160502_102229

berfoto bersama bapak bapak pagar betis nya keraton :D

IMG_20160502_100601_1

kalau yang ini tuan rumah selama di Solo

IMG_20160502_130027 IMG_20160502_131324   taman Balekambang Solo, tempat sering digelar pagelaran maupun untuk bersantai warganya

  Dari pojok ke pojok, kami pindah tujuan ke Taman Balekambang. Taman ini rindang, cocok untuk sekedar jalan - jalan bareng keluarga, pacaran atau sekedar numpang ngadem. Sayang waktu kami ke sana sedang tak ada acara yang diadakan di Taman Balekambang. Jajan di warung dekat pintu masuk dan memilih spot duduk untuk menyantap jajanan. Baru sekian menit duduk di bangku taman, kami sadar di sebelah bangku kami kotoran burung bertebaran. Oh man, pindah tempat duduk dan kejadian yang lain pun menghebohkan. Lagi asik ngobrol tiba tiba seekor rusa bertanduk mengendusku dari samping. Kaget minta ampun hahaha. Ada ada saja.

IMG_20160502_201140_1
   
 Kota Solo di siang hari panas minta ampun, mau tak mau kami balik ke rumah Arum untuk istirahat dulu sebelum malam ngemall dan jadi anak gaul Solo, jajan jajan yey!
Solo one day trip done, siap siap istirahat untuk ke kota sebelahnya, Jogjakarta!
Cheers,
Anggi

Minggu, 08 Mei 2016

Nganjuk, today's wedding trip story

   Nganjuk, sebuah kota kecil yang berjarak tempuh tiga jam dari ibukota Jawa Timur, Surabaya adalah lokasi pernikahan rekan kerja yang dipilih untuk diadakannya acara. Kami beramai ramai rombongan dari Balikpapan terbang dan menuju jalan darat agar bisa hadir di waktu yang tepat. Terbagi dari beberapa rombongan yang datang, kami tiba dan menginap di tempat yang sama di Nganjuk sana.

IMG-20160502-WA0010
   
Terjebak dalan drama tak bawa alat mandi karena terlalu 'njagakke' adanya mini market akhirnya kami dapat alat mandi sesuai kebutuhan. Malam yang tak terlalu nyenyak untuk tidur tapi kelelahan membuat kami tertidur walaupun tak terlalu cepat.

IMG-20160502-WA0016
   
Tanggal 1 Mei, aku, Arum dan Anis yang siap tak terlalu pagi harus rela ketinggalan acara akad. Tak apalah yang penting resepsi kami bisa hadir dan meramaikan acara. Pukul sepuluh, berpuluh puluh manusia yang mulai berpeluh tampak berebut berdiri di depan AC split dengan riuh. Tak terkecuali aku. Acara pernikahan tak terlampau padat untungnya, jadi kami khidmat mengikuti acara. Sambutan dari keluarga, puisi mempelai wanita yang berurai air mata, drama flasmob yang nyaris kami tak hapal gerakannya, suaraku menyumbangkan lagu dan missed di beberapa not serta keriuhan tamu undangan yang datang dari korps sebelah cukup membuat hari ini riang. Ya siapa yang tau kamu bertemu cinta lama, atau dia yang sebentar lagi akan melepas masa lajang dan membiarkanmu tahu di tengah obrolan penuh canda mu di siang itu.

IMG-20160501-WA0025
   At least everything is fine today. Oliv dan Sigra menikah, aku nyanyi walaupun sember, yang lama tak jumpa berkesempatan mini reuni dan geng Balikpapan akhirnya harus terpisah dan back on board. Separuhnya pergi duluan kembali ke perantauan sementara sebagian masih naik becak kembali ke hotel berkemas dan siap menuju Jawa bagian tengah.
Happy wedding dear, happy meeting again with old people guys, happily finding your Mr.  Destiny when it's destined.
See you again in another wedding trip,
Still alone but not lonely,
Anggi

Sabtu, 16 April 2016

Futsal Championship during Saturday rain

 This Saturday, I supposed to do some things left in my desk for the deadline given on the next Monday. But, the promise of going to drop off Mrs. Linda to the airport and my want to watch the futsal match keep me away from the unfinished job I have to do. This futsal match on the first round we lost to Tenggarong pals. The total tim to join the game were only four, so it's only going to be 1st, 2nr, 3rd and 4th place that we have. Another match result made my office team met Penajam team. We played not really well at the first match vs Tenggarong. But for the second match our team seemed to have the mood and rythm to play well. The team made 12 point in total, while our enemy didnt even get the chance to score. It's okay, during the hard rain that made me unable to go home I could witness the team to get more score. Not so lucky that we ennded up being in the 3rd place but it was fun to watch the match again.




Hola Prabajaya, hope the next time we get better.
Cheers,
Anggi

Jumat, 15 April 2016

Short Weekend Getaway to Teluk Penajam


  Hidup di kota terramai di Kalimantan dan katanya paling layak huni di Indonesia tak serta merta membuat sebagian penduduknya betah hanya berdiam diri di seputar kota, tak terkecuali untukku. Bagi yang bosan dengan kehidupan kota sekedar main ke perbatasan Balikpapan dan kota tetangga yang masih dipenuhi banyak hutan cukup menyenangkan. Sabtu pagi long weekend di bulan Maret, ajakan keluarga mbak Rahma untuk nyebrang ke Penajam lumayan membunuh kebosanan daripada harus di kosan, nge inem bersih bersih kosan, nyuci dan masak seharian.

 

   Kami naik mobil dari kota menuju pelabuhan penyeberangan Semayang. Menempuh perjalanan satu jam dari kota kami sampai di Kabupaten Penajam Paser Utara. Wilayah ini tak seramai Balikpapan memang, masih banyak tanah yang kosong dijual meskipun banyak yang sudah dilakukan pembangunan. Areal perkebunan sawit di Penajam cukup banyak, bahkan salah satu arealnya milik keluarga Mbak Rahma. Areal perkebunan yang masih luas di Penajam memang menjanjikan untuk dijadikan lahan bisnis. Selepas rehat sejenak seusai melewati kebun, kami mampir ke tempat teman Mas Aris (suami mbak Rahma) yang merupakan pengusaha setempat ngobrol sedikit banyak sembari Rana, Fadil dan Awan (anak – anak mbak Rahma) bermain di taman.








Seharian kami berkeliling di Penajam, mampir di kebun sawit dan memutuskan untuk pulang ke Balikpapan tanpa menyeberang teluk lagi tapi melalui jalan darat dengan kondisi jalan “Kalimantan”. Menempuh perjalanan melalui penyeberangan sembari bercengkerama dengan anak anak mbak Rahma yang tak kenal lelah dengan perjalanan yang kami tempuh sangat menyenangkan. Dibanding harus seharian ndekem di kosan pasti lebih membosankan. Perjalanan pulang dengan jalur berbeda membuat satu persatu dari kami tumbang, kelelahan di mobil. Jalan yang kami tempuh pun kondisinya miris, ini jalan baru benar – benar jalan Kalimantan, kata mbak Rahma. Kondisi jalan php alias pemberi harapan palsu, sebentar jalan lurus dan mulus tiba tiba ada lubang menganga di depan. Sempat mobil yang kami naiki hamper saja oleng ke samping, untung mas Aris yang menyetir sigap. Jalan yang kami tempuh selama enam jam untuk sampai ke Balikpapan tembus kawasan Hutan Bangkirai ternyata. Hari sudah berakhir, malam menjelang dan energy kami sudah habis terkuras. Terima kasih untuk cerita perjalanan baru yang ditempuh weekend ini, seru tapi jangan sering sering ya ketemu jalan begini.

Hope to get another interesting stories.
See ya,

Anggi