Tampilkan postingan dengan label Balikpapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Balikpapan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2017

Mencari Bekantan di Hutan Mangrove Margomulyo

   Hutan mangrove Margomulyo atau yang lebih dikenal dengan hutan mangrove SMA 8 ini adalah salah satu hutan mangrove yang dimiliki kota Balikpapan. Letaknya sekitar 10 kilometer dari pusat kota, tepatnya di belakang SMA 8 Mangrove dan bisa ditempuh dalam waktu 20 menit berkendara dengan kendaraan pribadi. Sebenarnya selain hutang mangrove Margomulyo ada hutan mangrove lain yang sering dikunjungi yaitu hutan mangrove Graha Indah yang memerlukan perahu untuk masuk ke kawasannya, sedangkan untuk hutan mangrove ini pengunjung hanya perlu berjalan kaki di sekitar areanya. Terdapat gazebo yang bisa digunakan untuk beristirahat sejenak ketika menyusuri areal hutan yang sengaja dikembangkan untuk area konservasi ini. Awalnya hutan ini dibentuk untuk menahan abrasi, tetapi seiring berjalannya waktu banyak pengunjung datang ke hutan ini dan dibukalah hutan untuk dikunjungi umum. Bagus juga ya, selain sebagai penahan abrasi ternyata hutan mangrove bisa menjadi tempat wisata alternatif juga.
6
pintu masuk kawasan mangrove
1
penduduk sekitar memanfaatkan jembatan untuk menjemur pakaian
4
the breeze
8
bibit bibit mangrove
5
pohon unik tumbang
Hutan mangrove ini memiliki luas sekitar 16,8 hektar dan berfungsi sebagai hutan lindung, tempat wisata, tempat penelitian, pendidikan lingkungan dan konservasi pohon bakau. Bila beruntung pengunjung bisa menemukan bekantan yang berkeliaran di kawasan hutan ini. Tak hanya bekantan, hutan mangrove ini juga rumah bagi beragam species kepiting dan hewan etnik Kalimantan lainnya seperti burung.
Hutan mangrove Margomulyo yang rimbun dan hijau ini bisa menjadi alternatif liburan, selain suasana tempatnya yang menenangkan, harga tiket masuknya pun hanya sukarela. Jangan lupa menyumbang lebih banyak demi kelestarian hutan ini ya.
 
9
salah satu gazebo untuk rehat
 
2
anak anak setempat begitu gembira bermain di area sekitar mangrove
0
ekspresi lo ketika liat bekantan, may be like this haha

Oiya satu lagi, jangan lupa bawa pulang sampahmu ketika bawa snack atau minuman ke dalam. Semacam kebiasaan ya, ada daya tarik, ada pula kurang dari tempat wisata begitu pula tempat wisata satu ini. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sepertinya kurang. Ada beberapa bagian yang terlihat bersampah yang sengaja dibuang ke kawasan hutan. Bikin jelek aja sih :( Semoga semakin banyak yang sadar dan ga buang sampah sembarangan lagi ya, bersihinnya susah lho. Kalau ga bisa bantu bersihkan sebaiknya jangan nyampah pliss.
 
 
7
Cheers,
Restiananggi
 
 
 
 
 

Senin, 28 Desember 2015

Singing at The Lounge


  
   As I’ve mentioned before that these four days streak I’m being all alone at home while everyone leaves to catch their holiday plans. First day home alone it’s Thursday, I’m so thankful that after sending Arum off at the airport I fall asleep until afternoon and realize that I get some friends who stay here.
A guy in my neighbour office stays here while his housemates go home. Thanks God I got a friend hahaha. Pack things and left to the mall ( I usually avoid coming to mall, I’m not into it actually) to go seeing him and I get two more friends coming after. Before sitting and eating at the cafĂ© he’s at, I come see my Jakarta friend for awhile. And just two pieces of selfie will do, have a nice vacation in the next city dude.

  
   
 Coming to Newstar Kopitiam, my plan was to sit, enjoy the coffee and write but end up eating meals there. Talking too much, the clock moves fast. Two more people come then we move to Jatra hotel to sit in the lounge. Here we are, J Cuvee Lounge with its cozy mood but crowded. Enjoying another cup of coffee, be strong tummy you gotta chew more caffeine. The singing time starts when I am about to get bored. I don’t want to sing at first, just wanna enjoy the music but then Mas Banu convinces me.






I nervously sing there, and again this song (Don’t You Remember – Adele). My college mates will bully me when they see me singing the song again. Don’t you have plenty reference? Why keep singing this one? It’s okay I am so happy that I sing the song again. The sound system is nice by the way.
I walk to my crowd when the guy in front line says “ You have a good voice girl, why don’t you sing again?” Hahaha thank you, it reminds me of my childhood dream of being singer and doctor. If only my physic didn’t get ruined this way, I wont be emotionally damage. I keep the dream of being singer, unability to join the contest was just another failure. I will just sing like the way I want, sing without even able to read the whole melody.
Well, singing at the lounge really made my day.
See ya in the next time my mood of singing comes ~

Happy me,
Anggi

Selasa, 22 Desember 2015

Delicia Cafe, Balikpapan your Latin taste


Balikpapan, kota yang tak akan membuatmu kehabisan referensi tempat hangout ketika berada di sana . Kota yang tumbuh menjadi salah satu kota dengan perkembangan terpesatnya di Indonesia ini adalah wajah termetropolitan di pulau Kalimantan. Gaya hidup masyarakatnya yang suka menghabiskan uang ditandai dengan maraknya tempat nongkrong sebagai salah satu syarat pergaulan masa kini bagi anak mudanya.


Well, untuk urusan cafe atau coffeeshop Balikpapan punya banyak referensi. Salah satu tempat yang akan kuulas kali ini adalah Delicia Cafe. Terletak di sepanjang jalan utama Balikpapan Selatan, tepatnya jalan MT Haryono cafe bertema latin ini menjadi salah satu favorit karena cita rasa latin yang dijualnya kental dan menjadi ciri khasnya. Dengan range harga dari 20-70 k untuk setiap menunya, tempat ini layak dijadikan salah satu cafe favoritmu. Menu yang dijual ala ala latin dan suasana cozy adalah hal yang kucari di sini. Beragam minuman dan makanan yang dijual di sini rasanya enak dan well cooked menurutku, bahkan untuk menu semacam telur dadarnya pun rasanya unik. Beda dengan telur yang kugoreng sendiri di dapur kosan.
   Kalau tak ingin suasana yang terlalu riweuh dan ramai datanglah di kala weekday, cafe ini tak akan semrawaut seperti bayangan.


Find your happiness in the food you eat,
Happy eating, happy living

Kisskiss,
Anggi R Dewi

Minggu, 13 Desember 2015

Etnica Coffee & Kitchen, Balikpapan

   Balikpapan, kota tersibuk di Kalimantan ini tak pernah kehabisan referensi tempat nongkrong bagi para muda mudinya. Coffee shop adalah tempat yang paling mudah ditemui di kota ini. Ruko Pasar Segar Balikpapan Baru adalah salah satu lokasi terfavorit untuk menghabiskan waktu sekedar untuk nongkrong, ngobrol atau sekedar tempat janjian. Di kawasan Ruko ini terdapat banyak tempat makan, cafe dan berbagai toko berjajar rapi. Bahkan ada butik butik dan juga tempat latihan muay thai di kawasan ini.
Balikpapan, the busiest city in Borneo never stop having references for the young to hangout. Coffee shop is the easiest place to be found in the city. Pasar Segar Block in Balikpapan Baru is one of the most favourite to spend time, chitchating or meetup place. In the area there are various eating spot, cafe, shops. There's also clothes store and even muay thai training camp there.
 
   Etnica coffee & kitchen adalah cafe yang ingin kureview kali ini, terletak persis di sebelah Coffee Talk, aroma persaingan terbuka terlihat jelas di sini. Menu yang ditawarkan di cafe ini hampir sama dengan coffee shop kebanyakan di Balikpapan lainnya. Ada banyak aneka minuman berbau kopi bagi para pecintanya untuk dinikmati di sini, selain kopi cemilan ringan untuk sekedar menemani ngobrol juga tersedia.
  Etnica coffee & kitchen is the lucky cafe I'm reviewing this time, located right beside Coffee Talk, competition atmosphere is easily being felt. Menu offered in the cafe almost the same with another coffee shop in Balikpapan. There are various coffee menu for coffee addict to taste here, beside there's also small bites food for chilling all night.


Maybe you feel a bit bored with your lazy weekend rolling around bed all day?
Take your coat and come out,
See me at the cafe,

Restiananggi 

Sabtu, 12 Desember 2015

Book Cafe, Balikpapan one stop cafe

   Berada di kota tersibuk dan modern di Kalimantan adalah hal yang patut kusyukuri. Bagaimana tidak, kota ini ramai dan banyak one stop cafe di mana aku bisa leluasa menghabiskan waktu untuk ber me time atau hangout bareng geng di sela stress beban kerja.
Salah satu cafe favoritku di sini adalah          
   Book Cafe yang terletak di Ruko Bandar. Cafe yang terletak persis di sebelah Happy puppy karaoke ini menawarkan konsep yang menarik dan lain dari cafe kebanyakan. Cafe berkoneksi WiFi kencang ini menyediakan menu ala cafe yang cukup beragam, ada pula buku yang disewakan dan disediakan gratis, dan mainan yang ada dan bisa digunakan pengunjung yang bosan menghabiskan waktu hanya duduk duduk ngemil.
Desain ruangan yang tak terlalu ruwet tapi terkesan rapi membuat pengunjung betah berlama lama menghabiskan waktu.
   Tempat ini memang cukup jauh dari kos, tapi bisa jadi alternative untuk ber me time atau kabur sebentar dari bosannya menatap dinding kos kosan.



So where will you spend the Holly weekend?
Come and get addicted of this cafe
 ~Cheers,
Anggi 

Rabu, 25 November 2015

Canopy Bridge Bukit Bangkirai, finally unlocked!

    Hello Canopy Bridge, setelah sekali gagal sampai di Bangkirai karena motor kepleset dan nyungsep akhirnya kali kedua datang berhasil sampai lokasi. Yeaay! Setelah janjian yang ga tentu keputusannya karena ada sebagian yang fix, ada yang berhalangan ikut dan ada calon peserta yang cuma omong doang. Berangkatlah kami seadanya, setelah nambah satu peserta dadakan yang langsung fix ikut dan bisa diajak kerja sama. Minggu jam 9 pagi aku, mbak Rest, Icang,Udik dan Mas Angga berangkat ke Bangkirai sesuai rencana, walaupun dengan sisa - sisa kecapekan karena acara ICV sebelumnya. Bismillah!
   Hello Canopy Bridge, after once failed to go to Bangkirai caused by the slippery track that made us fall down and this second time we finally made it. There were the ones who couldn't join the trip, there were also the big mouth ones but not even joining. There we go, after getting one more sudden member and go as planned. Sunday 9 a.m me, mbak Rest, Icang, Udik, and Mas Angga went to Bangkirai, although we were deadly tired after ICV. Bismillah! 



  Tepat dua jam perjalanan dari pusat kota ke Bangkirai kami tempuh, touchdown yeay! Sampai sebelum dhuhur dan cuaca belum mendung lagi akhirnya kami berhasil juga ke Bangkirai. Dengan tiket seharga …. Dan… untuk melintasi Canopy Bridge, trekking masuk ke hutan sekitar 15 menit ini lumayan membuat kami berkeringat. Pemandangan hutan sepanjang jalur masuk ke Canopy Bridge sangat menyenangkan, walaupun ini bukan naik gunung tapi masuk ke hutan – hutan seperti ini rasanya bikin bahagia. Kanan kiri terlihat banyak pepohonan tinggi khas hutan Kalimantan, banyak pohon Bangkirai (yang diambil jadi nama tempat ini), banyak pula jenis pepohonan yang menjadi pohon adopsi. Pengen ngadopsi pohon juga tapi ndak tau caranya, could somebody tell me?
  Two hours exact time we spent to reach Bangkirai from the city, touchdown yeay! We reached the place before dhuhur and the weather still nice finally we made it to Bangkirai. With k entrance tiket and k for the Canopy Bridge, trekking into the forest about 15 minutes successfully made us sweat. The view along the entrance trek to Canopy Bridge was great, although it’s unlike mountaineering but going to forest like that made me really happy. There were many high  Kalimantan trees, many Bangkirai trees (which was taken as this place name), there were many adopted plants too. Wanna adopt one too but I don’t know how to do so, could somebody tell me?


   
 

Oiya, bagi yang iseng dan tangannya suka usil harap hati- hati karena di lubang pepohonan sering ada ularnya. Beberapa pohon sudah ditulisi peringatan, yang penting jangan usil dan tetap seperlunya. Antrian untuk melintasi jembatan gantung ini tak terlalu banyak untungnya, walaupun ada rombongan lain yang  berlama – lama tak mau gantian kloter selanjutnya waktu kunjungan kami tampaknya belum sampai puncaknya. Sempat agak kesal karena rombongan sebelum kami yang lamaaanya minta ampun, ditambah vandalisme di kayu – kayu canopy bridge ini rasanya #kretek bikin hati ini retak karena emosi. Kalo nggak bisa ngerawat please atuh jangan ngerusak, setidaknya biarkan aja sebagaimana adanya.

   Canopy Bridge ini terdiri dari beberapa bagian yang saling menghubungkan satu pohon ke pohon lainnya dan hanya boleh dilewati satu per satu orang di tiap jembatannya. Sebenarnya ketinggian adalah salah satu phobia dari beberapa yang kupunya, alhamdulilah sih walaupun jalan timik – timik aku berhasil melewati jembatan – jembatan gantung itu. Dan ketagihan, tapi kami hanya sekian menit di atas, jalan melewati jembatan, foto – foto, menikmati pemandangan hutan dari ketinggian. Subhanallah bahagia rasanya menatap hamparan pohon dari ketinggian. Semoga kebakaran – kebakaran hutan tidak terjadi lagi ke depannya ya. Katanya paru – paru dunia masa bopengan, kan ga keren.
   Canopy Bridge consist of several parts that connect one tree to another and only one person allowed each when passing through the hanging bridge. Actually height is one of my phobia, Alhamdulillah walking slowly and I could pass all of them. And addicted, but unfortunately we only crossed the bridge in several minutes, taking pictures, enjoying the forest view from heights. Subhanallah I was really happy to see the view. Hope that there's no more forest burnt in the future. It's totally uncool seeing the world's lung being burnt that way.


 
Setelah naik jembatan gantung kami tak langsung pulang, tapi trekking ke kebun anggrek dan kebun buah yang ternyata kering -__- Ya ampun sudah sejauh ini kami jalan, tapi lumayanlah sudah lama ga trekking keluar masuk hutan. Keringat bercucuran, gambling jalan keluar untung ketemu jalur yang benar, pulanglah kami dengan perut keroncongan dan langit yang mulai mendung .
After passing the Canopy Bridge, we didn’t go home right after but walked along the trek to orchid and fruits area that turned out to be dry. -___- We’ve walked that far, good enough for me since long time no trekking into the forest. Sweating, gambling to decide the way home and there it was the right track, we went home starving and the sky started to turn dark


 


 

 

Rencana bablas ke pantai kota sebelah batal karena waktu dirasa mepet, pulanglah kami dengan banyak pikiran dan cucian. Nyuciin mobil, sholat, pulaaang.
Our beachwalking plan was being pushed back since we’re running out of time. We went home with many things in mind and clothes waiting to be done. Washed the car, prayed, went home right after.

See you the in another trip  we’re going to have fun ~


Kissbye,
Anggi Restiana