Tampilkan postingan dengan label STAPALA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label STAPALA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Februari 2016

Bugis Wedding Love Story, 901 & 951 day

   Berawal dari janjian yang disepakati dari dua orang bertambah jadi tiga seterusnya dan akhirnya rombongan kami berjumlah total 13 orang. Wow bukan, niat kali anak STAPALA kondangan.
Pernikahan kak Palpi dan Gamping adalah hal yang sangat sayang untuk dilewatkan, dua duanya adalah senior ku di STAPALA yang sudah kuanggap kakak sendiri. Mereka menikah pada akhirnya setelah melewati drama kisah cinta mereka yang ya begitulah hahaha. Terharu dan excited membuatku bergabung dalam geng kondangan ini jauh jauh dari pulau sebelah. Rombongan kami datang dalam dua sesi yaitu siang dan malam, sempat berdesakan di mobil dan diisi sebelas orang dengan bawaan penuh, totally insane. Akhirnya kami menyewa dua mobil menuju Pare pare dimana pernikahan akan berlangsung.

   Sampai di tempat mempelai lewat tengah malam kami disambut dengan sukacita, two  of our 'kakak ketemu gede' are getting married. How can't we be happy for both?
Kami menginap di tempat tante Kak Palpi setelah melewati tiga jam perjalanan dan tidur jadi satu di ruang depan. Berasa makrab ya, tapi ini nginap di tempat calon pengantin. Terlihat sorot muka Gamping yang penuh kebahagiaan, ciee nikah.

 
 
  Upacara pernikahan dengan adat Bugis sangat menarik untuk diikuti dari awal proses hingga selesai. Sayangnya kami datang terlambat dan terlewatkan menyaksikan prosesi Mapacci (upacara pemberian pacar bagi mempelai wanita, pacar atau pewarna kuku yang dimaksud diberikan sebagai salah satu rangkaian prosesi pernikahan). Pada mempelai pria juga diadakan upacara terpisah untuk pemberian doa yang dilakukan, pembekalan bagi calon  pengantin sebelum menghampiri mempelai wanita di lokasi akad.
   Untuk akad nikah pun dilakukan hanya antara pengantin pria dan bapak mempelai wanita, setelah dinyatakan sah mengucapkan ijab kabul waktunya mempelai pria menjemput pengantin wanita di kamar rias. Dalam penjemputan ini pengantin pria diringi rombongan dan masih ada lagi rangkaian adat yang harus dilalui.
Pengantin pria dipersilahkan untuk mengecup kening istrinya dan menyentuh bagian yang dipercaya memiliki lemak paling banyak, yang entah aku tak bisa melihat karena terlalu penuh sesaknya pengunjung. Rangkaian upacara adat pernikahan Bugis ini selalu diselingi pertunjukan tarian di setiap step nya, tariannya bagus, pernikahannya meriah, tamu senang, mempelai pun riang



Bahagia kami menjadi tamu undangan, menyaksikan kedua kakak kami akhirnya bersanding di pelaminan.
Happy Bugis Wedding Day, 901 &951, semoga selalu bersama, bahagia dan penuh cinta~~



Sampai ketemu di nikahan selanjutnya ~
  

Senin, 08 Februari 2016

Discover Rammang - Rammang

   Sebuah tempat wisata yang terletak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan ini mulai ramai dan dikenal wisatawan. Pesona  karst Maros masih menjadi salah satu daya tariknya, ditambah keunikan perjalanan menuju Kampung Banua yang masih asri dan harus ditempuh menggunakan perahu perahu kecil untuk menyeberang sungai membuatnya kian melejit sebagai salah satu tujuan wisata di sekitaran Makassar. Berwaktu tempuh hanya satu jam dari kota Makassar dan lokasinya yang mudah diakses, Rammang – Rammang mulai bersolek di mata pariwisata Makassar. Akhir bulan lalu, aku dan teman – teman kuliahku berwisata keliling , Makassar, Maros, dan Pare – Pare dengan berkedok kondangan. Alasan kami datang ke Pulau Sulawesi adalah kondangan, sedangkan alasan sampingan yang utama adalah untuk ngetrip dan mengeksplor tempat wisata di kawasan tersebut. Dan Rammang – Rammang adalah yang paling mengesankan karena kami dua kali datang ke objek wisata ini dan berhasil naik perahu di kesempatan kedua setelah hari pertama gagal karena hari sudah gelap ketika kami tiba.
   .




   Kebanyakan tempat wisata di sekitar Makassar Maros memiliki nama yang berulang, seperti Rammang – Rammang. Kami menyewa satu kapal untuk berdelapan, duduk dengan rapi sambil menikmati pemandangan sekitar sementara pemandu kami sibuk mendayung dan menjelaskan perihal objek wisata ini. Hamparan rawa yang kami lewati aman karena tidak ada buaya di kawasan ini, unlike Borneo dudes ~ Di kanan kiri bisa kita lihar jajaran pepohonan berderet rapi, sedangkan sejauh mata memandang bisa kita lihat kokohnya perbukitan karst berdiri. Subhanallah, lukisan alam yang menyejukkan mata




Kami tiba di daratan di mana terdapat sebuah kampung bernama Berua yang biasa digunakan untuk singgah para wisatawan yang berkunjung. Kami berhenti sejenak untuk sholat dan berfoto. Di gubug dekat mushola terlihat jajaran foto yang memperlihatkan animo pengunjung yang memposting gambar mereka di tempat wisata ini dan turut serta memperkenalkan Rammang – Rammang ke khalayak ramai. One of the advantages of having social media, you could show the people how good the place is.

Hujan mulai turun ketika kami berjalan di persawahan, move move guys. Hujan semakin deras mengguyur ketika kami sampai di dermaga. Alhamdulillah kami tak terlalu basah kuyup karena hujan. Untunglah drama nyaris gagalnya trip ke Rammang – Rammang berujung gembira. Saatnya aku dan satu kawanku yang juga bekerja di Kalimantan mengejar waktu penerbangan kami yang tinggal sejam lagi. Untungnya penerbangan delay setelah kami terjebak macet di jalanan ibukota (Sulsel). Di sinilah hikmah delay yang kami alami membawa rejeki sehingga kami bisa sampai tepat sebelum pesawat boarding.

Sampai jumpa Sulawesi, nice to explore you, till we meet again. Be wonderful as always ~

Mencari Jejak Prasejarah di Situs Leang – Leang, Maros




   Maros memang terkenal dengan keindahan karst perbukitannya dan sudah tersohor di tanah air bahkan mancanegara. Namun pesona yang dimiliki Maros tak hanya sekedar perbukitan karst, ada situs Prasejarah Leang – Leang yang menyimpan banyak cerita sejarah masa lampau. Terletak di Kecamatan Bantimurung membuat jarak tempuhnya tak terlampau jauh dari bandara, empat puluh lima menit perjalanan yang rombonganku butuhkan untuk sampai ke situs Leang – Leang minggu lalu. Aku dan geng kondangan STAPALA goes to nikahan Kak Palpi dan Gamping menuju lokasi ini dengan tim yang tak lengkap karena separo geng nyusul datang malam. Penyewaan mobil tersedia cukup banyak, jadi akses kami selangkah lebih dipermudah. Pemandangan sawah hijau menghampar ditambah pemandangan bebukitan karst yang semakin membuat situs ini memesona. 
 

 




  
  Untuk bisa masuk ke situs ini kami membayar tiket masuk dan menyewa guide agar lebih memahami cerita situs ini. Jalan menuju goa cukup licin, ditambah dengan tetesan air yang konon katanya tetap menetes seperti hujan gerimis sepanjang beberapa bulan dalam setahun membuat kami sebagai pengunjung harus ekstra hati – hati. Meleng sedikit kita bisa terpeleset jatuh. Kebetulan waktu itu sehabis hujan, air sungai di Leang – Leang yang biasanya jernih tak sejernih biasanya. Namun semuanya terlupakan manakala kami menatap pemandangan potret lukisan alam berwarna hijau dan juga hamparan bebatuan berserak yang terbentuk oleh alam.






Kami dibawa oleh pemandu kami menuju goa dimana lukisan tangan Situs Leang – Leang berada. Leang yang dalam Bahasa setempat berarti goa menjadi daya tarik utama di situs ini, terdapat lukisan tangan manusia dan juga bentuk menyerupai babirusa di dinding dinding goa. Sebelum ditemukannya lukisan bukti peradaban prasejarah manusia yang pernah menghuni goa – goa tersebut Leang – Leang hanyalah desa kecil yang sepi dan gersang. Kini setelah mulai tersentuh pembangunan di bidang budaya, Situs Leang – Leang menjelma menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang dituju banyak wisatawan tak hanya dalam negeri tetapi juga mancanegara. Tak akan pernah membosankan dan tak cukup berkunjung ke situs ini hanya sekali. 




Travel more, learn more, deal with people and places more, and live happily,
Kiss,
Anggi R. Dewi


Selasa, 14 Juli 2015

Rafting Kering Elo di bulan Ramadhan

   Bulan Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir, belum ada satu trip pun mampir ke agendaku setelah sekian waktu. Dan akhirnya sebelum bulan puasa ini berakhir, tawaran rafting di musim kering itu datang. Dari peserta yang tadinya banyak dan akhirnya mreteli menyisakan empat orang saja, rafting di musim kering ini pun kami lakukan. Walaupun sebenarnya nyaris batal juga sih, akhirnya kita rafting dengan paket biasa, ekonomis lah ya pesertanya tinggal berempat ini. Aku, Logi, Nedi dan Cupang tetap rafting walaupun ini bulan puasa.
   Karena kamera go pro tak ada, kami membawa hp untuk sekedar selfie di atas perahu, dan dititipkan bapak operatornya hahaha. Lumayan lah dapet beberapa foto biarpun nggak ada foto di jeram. Keadaan sungai yang debitnya turun drastis adalah salah satu faktor yang bikin capek, ya arusnya tenang gitu mau ga mau dayung terus deh. No problemo, pokoke rafting di musim kemarau udah dicobain.









   Naik ke bagian depan perahu adalah hal yang paling seru, untung musim kemarau jadi ga serem serem amat kalo jatuh. Paling juga kena batu lecet - lecet. Bagi peserta yang tak sempat jatuh dari perahu, bagian paling seru adalah ngetawain temen yang jatuh. That's how we have fun today! Cupang kecemplung pas di jeram dan kami malah sibuk menertawakan. Jahat nggak jahat ya :v
Siang menjelang, rafting selesai, beberes, waktunyaaa pulaang. Satu trip bareng anak STAPALA sudah selesai dilakukan. See ya on another trip, tapi tergantung penempatan hehehe


Cheers,
Anggi Restiana Dewi
Bangsal