Tampilkan postingan dengan label Singapore Batam Trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Singapore Batam Trip. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2016

Dikuntit Turis India

   Solo travelling memang menyenangkan untuk dilakukan, terlebih jika perjalanannya menyenangkan dan sesuai harapan. Baik untuk solo traveler pria atau wanita, perjalanan yang dilakukan sendiri memang memiliki sensasi dan menimbulkan kepuasan tersendiri ketika selesai ditunaikan ibadah kali ditunaikan. Bagi solo traveler, kebingungan mencari alamat atau sekedar nyasar mungkin sudah biasa. Tapi bagi solo traveler wanita, berhati - hati lebih dan waspada adalah keharusan yang tak boleh dilupakan dalam setiap perjalanannya. Perlindungan diri semacam pepper spray dan sedikit kemampuan beladiri mutlak diperlukan, terlebih di situasi mengancam yang bisa terjadi kapan saja. Namanya juga makhluk yang dianggap lebih lemah, wanita harus ekstra  aware kapanpun dalam setiap perjalann yang dilakukan sendiri.
   Pengalaman buruk ketika melakukan solo traveling juga hal yang tak luput menimpaku di pengalaman solo traveling pertama, ke luar negeri pula. Terjadi di malam terakhir di Singapore, dimulai dari pindah hostel ketiga kalinya karena memang sengaja moving tempat menginap hingga detik terakhir check out dari hostel. Dari ketiga hostel yang kuinapi, hal yang terjadi benar - benar di hostel terakhir membuatku agak kapok untuk menginap di sana lagi. Mendapat teman sekamar yang ngorok, mungkin tak seberapa menyiksa jika tak ditambah dikuntit orang yang kebetulan tinggal di tempat yang sama.
   Suasana dorm campuran yang berisi tukang ngorok dan membuatku kesulitan tidur adalah awal dari keapesanku malam itu. Memilih keluar kamar dan sekedar browsing di ruang komputer ternyata menggiringku ke masalah lain, niatnya sih ngenet akhirnya terganggu oleh komputer sebelah yang dipakai oleh turis India, sebut saja namanya Amir. Awalnya kami hanya mengobrol, ketawa tawa bercanda, sampai topik beralih dan si Amir mulai sepik sepik iblis  menjual cerita cerita sok manis sampai Brian , teman baruku yang juga sesama Indonesia mengingatkan untuk segera keluar dari ruangan itu. When there's another people give you warning, it means that's not a good condition. And turns out it's no better then. Karena tak bisa tidur, aku pindah ke ruang depan untuk sekedar mencoba alat pijat gratisan yang disediakan hostel. Sementara Brian akhirnya mengiyakan ajakan si Amir untuk berjalan sekeliling area hostel. Aku sendiri memilih tidur sambil duduk di kursi pijat yang tak kugunakan lagi. Well, kesulitan tidur berlanjut hingga pukul 3 dini hari, Amir dan Brian kembali dari jalan malamnya. Brian memberi isyarat untuk segera kembali ke kamar karena Amir sudah mulai ribut tak mengenakkan. Awalnya aku pikir dia hanya sekedar sepik sepik merayu agar aku mau pindah ke kamar yang dia sewa selama sebulan. Tapi itu berlanjut sampai sekembalinya mereka dari luar. Aku berpura pura mengantuk, tapi tak mengurangi kegigihan Amir agar aku bisa dibujuk ke kamar yang dia sewa. Dengan dalih ada bed lain yang kosong dan tidak ada teman sekamar yang ngorok. Brian memberi isyarat agar aku segera mengunci pintu dan buru buru tidur, padahal sumpah mati ga ngantuk. Sampai jam 3 pagi dan itu sangat menyebalkan. Oh thanks God, at least there's Brian who can handle Amir to go away.
 img_20160214_100835
   Coba ndak ada yang kukenal lagi di solo trip waktu itu, mungkin saja bisa berakhir buruk. Karena yang masih terjaga hanya aku, dan si Amir. Untung si Brian nyusul ke ruang komputer. Well, every journey has its own story. And this "dikuntit turis India" is another story of starting my solo traveling. 
So excited to plan another, have a great weekend and keep traveling!

Sabtu, 19 Maret 2016

Hello Batam


   Salah satu tujuan solo travelingku bulan kemarin adalah ke Batam, walaupun sudah betah dan masih pengen berlama lama di Singapore akhirnya aku tetap ke Batam karena janji sudah dari lama kubuat. Sayangnya tuan rumah yang tadinya akan mengajakku keliling kota harus kerja, hari liburnya direnggut kantornya bekerja T.T Jadilah aku janjian dengan yang lain.
   Setelah drama kehilangan kunci hotel dan kehilangan uang deposit, aku berangkat ke Batam melalui penyeberangan di Harbour Front setelah naik MRT sampai ketiduran. Rasanya kaya naik KRL dari Manggarai sampai Serpong, tidur nyenyak tanpa gangguan. Singkat cerita setelah menghabiskan 45 menit kuhabiskan untuk menyeberang (tidur lebih tepatnya) SIM card ku langsung kehilangan koneksi, fakir kuota akhirnya aku ke mall numpang wifi untuk janjian ketemu Mbak Eng yang akan membawaku bertualang ke sekitaran pulau kecil di Batam. Seharusnya kami bisa nyebrang ke pulau yang lebih wah, karena sempat terganggu teman sedorm di hostel yang ngoroknya berisik ndak karuan, persiapanku terlambat dan harus merelakan mengeksplore pulau pulau cantik itu lain waktu yang entah kapan.
   Boncengan motor sekalian hujan hujan, akhirnya kami melewati Jembatan Barelang yang legendaris itu, makin jauh dari Jembatan I pemandangan makin jauh, sayangnya kesadaran untuk ga mengotori lingkungan masih kurang. Bekas orang jajan, jualan dan makan berserakan, duh miris.
Oiya jembatan ini sebenarnya menyenangkan untuk liat liat pemandangan, baguus banget dibandingkan Balikpapan yang pemandangan pantainya berwarna kopi susu :” By the way kami yang awalnya ndak niat ke Camp Pengungsian Vietnam akhirnya sampai juga di objek wisata ini. Alhamdulillah masih sore, jadi tak terlalu mencekam suasana di sana. Lokasi objek wisata sejarah ini ramai dikunjungi wisatawan dari Batam dan luar Batam. Jangan ke sini ketika hari mulai gelap ya, suasana bangunan bangunan peninggalan sejarah dan kompleks makam cukup bikin merinding ditambah sekitar kawasan ini masih rindang pepohonan hijau. Bahkan kita bisa leluasa memberi makan monyet monyet yang berkeliaran di sepanjang objek. Untungnya sih jinak.
We’re going to separate ways then. Aku di drop di mall untuk kemudian ketemu dengan sahabat lama yang super duper ngangenin dan Mbak Enggar melanjutkan perjalanannya untuk ke tempat lain. Thankyou for the hospitality, see you in the next chance we got ~
Mampir di kosan Febri, yang sama sama barusaja ulang tahun dan dikasih kado lucu, it’s really nice to see you sis. Sayangnya Febri harus masuk kerja dan aku pulang tanpa ada yang nganter, pesawat didelay tiga jam. Yasalaaam, semoga aka nada kesempatan lebih baik lagi untuk ke Batam ~


Rabu, 09 Maret 2016

Singapore Birthday Runaway Trip , short story

   Long time no posting, hai saya kembali lagi kali ini untuk share pengalaman solo trip 11-14 Februari lalu ke Singapore yang dilanjut Batam. Sebenarnya rencana awal saya adalah ke Turki, tapi karena kasus bom yang sempat terjadi di Istanbul rencana trip itu saya urungkan dan akhirnya solo trip ini saya mulai di Singapore.


Persiapan
Tiket
Paspor saya nganggur dua tahun setelah dibuat, karena kebanyakan rencana dan belum jalan juga akhirnya tahun ini saya pergi sendiri bertepatan dengan momen ulang tahun, itung – itung birthday solo trip, belajar banyak hal dengan pergi sendiri. Karena memilih berangkat melalui Jakarta secara random saya mampir dari Balikpapan ke Jakarta dan naik Air Asia seharga 320ribu ke Singapore walaupun bukan tiket promo. Untuk kembali ke Indonesianya saya memilih menyeberang dengan ferry menuju Batam dengan tiket seharga $25. Setelah sebelumnya membeli tiket secara random tanpa melihat kalender berangkatlah saya ke Singapore seorang diri, itung – itung ngelatih mental karena rencana pergi ke Turki saya batalkan. Tiket seharga 320ribu AirAsia membawa saya ke Singapura, sebelumnya saya berangkat dari Balikpapan ke Jakarta untuk mampir ke tempat teman.

Penginapan dan Akomodasi
Hostel saya pesan dari Traveloka untuk satu malam, dua malam berikutnya saya marathon berganti tempat, harga permalam $19. Dari tiga hostel yang saya tempati (5footway inn Chinatown, 5footway inn Aliwal Street dan ABC Hostel di Jalan Kubor) yang paling recommended dan nyaman adalah 5footway inn di Aliwal Street.
Untuk transportasi saya memakai Ez Link yang bisa ditop up dengan mesin otomatis, karena dapat pinjaman dari teman saya cukup keluar uang untuk top up $10, sesekali naik taksi karena mendesak, dan perbanyak jalan kaki ke mana mana.



Itinerary
Day 1 (Kamis, 11 Februari 2016)
Jakarta – Singapore
  1. Changi Airport
 Karena tiket yang saya pesan random dan jadwal penerbangannya siang menuju sore, sampailah saya terlalu sore di Singapore. Sebagai solo traveler bingung di awal itu pasti, memutar – mutari area Changi yang luas sekitar lebih dari sejam akhirnya saya mendapatkan kartu Singtel seharga $15 yang bisa langsung diaktifkan untuk komunikasi selama di sana. Selain itu saya melakukan top up kartu Ez link untuk keperluan transportasi selama di Singapore.
  1. Chinatown dan Riverside
MRT : Chinatown Station
Sampai hostel cukup malam dan dapat travelmate baru kenalan orang Indonesia juga, lumayan ada teman jalan malam ini. Kami jalan kaki keliling Chinatown dan sepanjang river, suasana malam di kota beda jauh jika dibandingkan Jakarta ya, aman banget untuk jalan. Istirahat di hostel untuk hari berikutnya


Day 2 (Jumat, 12 Februari 2016)
  1. Garden By The Bay, Esplanade, Merlion
MRT : Bayfront Station
Rencana pergi ke Garden By the Bay di pagi hari nampaknya tak terlalu baik tapi juga tak terlalu buruk. Memang tak ada pertunjukan garden rhapsody yang indah tapi udara di pagi hari masih cukup sejuk dan sepi pengunjung, puas berkeliling objek ini. Saya berkeliling sekitaran kawasan ini, berjalan kaki sampai Merlion dan Esplanade bareng travelmate baru saya, Bryan. Demi mengejar waktu check out sebelum jam 12 dan pindah hostel kami sempat naik taksi waktu berangkat ke Garden By The Bay. Lumayan untuk pindah lokasi selanjutnya kami jalan kaki cukup jauh ke Merlion Park yang mulai ramai pengunjung.

  1. Keliling sekitaran Aliwal dan Arab Street, Mustafa Center
MRT : Nicole Highway Station
Check out sebelum jam 12, pindah ke hostel lain di Aliwal Street naik MRT cukup lumayan, kami sampai di hostel baru untuk titip barang. Kami berkeliling untuk makan siang dan mengunjungi jalan – jalan dekat hostel yang sudah ramai pengunjung.  Hujan deras mengguyur cukup lama sehingga waktu sekitar dua jam tidak bisa kumanfaatkan untuk keluar. Menjelang waktu magrib hujan reda, atas rekomendasi teman dan juga karena ada janjian dengan teman baru akhirnya saya kembali ke Garden By The Bay.


Untuk makan siang, Bryan makan pork sementara saya makan makanan India halal dengan menu nasi briyani seharga $5 yang porsinya membuat saya kapok saking banyaknya.

  1. Garden By The Bay
Bayfront Station
Dapat teman baru orang Jepang yang hobi jalan kaki dan suka ngobrol nyambunglah obrolan kami dan berlanjut jalan bareng, sambil menunggu Garden Rhapsody mulai, aku Bryan dan Shin (si Jepang) berkeliling taman. Ternyata benar apa kata orang – orang, Garden Rhapsody bagus disaksikan malam hari, tak sia – sia kembali ke sini. Meskipun sebelumnya hujan deras sempat mengguyur dan masih ada rintik – rintik hujan turun, it was nice afterall. Harmoni pertunjukan lampu – lampu warna warni diiringi music yang mengalun membuat kunjungan kedua ku ke sini lebih berkesan daripada tadi pagi.


  1. Bugis Street
Bugis Station
Bryan memisahkan diri karena sudah tak sanggup jalan jauh, saya dan Shin melanjutkan perjalanan ke sekitaran Bugis Street, bukan untuk belanja tapi benar – benar jalan kaki dan melihat banyak tempat baru. Kami sempat menonton sebuah atraksi yang diadakan di depan bar di dekat Bugis. Banyak muda mudi yang berjalan di sekitar kawasan itu. Suasana sekitar Bugis, Arab Street dan sekitarnya di malam hari lebih bagus dan hidup ternyata. Karena tak terlalu suka keramaian orang berbelanja di Bugis, kami malah menemukan pemandangan tempat lain yang lebih bagus disaksikan ketika malam hari.
Day 3 (Sabtu, 13 Februari 2016)
  1. Malay Heritage , Sultan Mosque dan sekitarnya
Nichole Highway Station
Karena selalu berganti hostel dalam perjalanan ini, saya memutuskan untuk berkeliling objek di sekitaran hostel. Sendirian berjalan – jalan di sela kerumunan turis yang mengunjungi Malay Heritage kemudian berpindah ke Masjid Sultan untuk melihat lihat dan numpang sholat sekalian. Memang pemandangan di jalan – jalan sekitar sini berbeda jika dilhat pada waktu siang dan malam.

  1. Sentosa Island
Harbour Front Station
Setelah check out dari hostel dan pindah ke hostel berikutnya yaitu ABC hostel di Jalan Kubor, saya melanjutkan perjalanan hari ini ke Sentosa Island, cuma pengen melihat lihat dan foto di depan globe USS sih sebenarnya. Naik MRT dari Bugis Station dan turun di Harbour Front, saya lanjut sampai Sentosa dengan berjalan kaki. Lumayan selama di Singapore jalan kemana mana tak terasa jauh, malah menyenangkan karena sebenarnya saya suka jalan kaki dan kekurangan tempat pejalan kaki yang aman di negeri sendiri.





734847_10205944479271085_3803811828678713607_n
Makan siang saya memilih menu nasi lemak dengan sambal petai seharga $4, lumayan enak dan mengenyangkan. Walaupun di Singapore makan pete ndak apa apa lah.

  1. Singapore Botanical Garden
Botanical Garden Station
Setelah kelelahan mengejar waktu ke Sentosa, saya dan Bryan ke Botanical Garden dan berpisah jalan. Berkeliling botanical garden ini, duduk duduk, tiduran di rumput layaknya pengunjung lain sangat pas untuk piknik keluarga. Sayang sih, solo trip, mungkin next time.

  1. Masjid Baalwie
Mencari tempat sholat di objek wisata cukup susah, saya naik bus sebentar kemudian jalan memutar menuju Lewis Street di mana masjid yang saya kunjungi berada. Tempat wudhu nya bagus, banyak bukti sejarah masjid Baalwie terpampang di setiap sudutnya. Lumayan belajar sejarah Islam di sini. Sayangnya pengunjung masjid cukup sepi.
  1. Ngopi di Atlas Coffee
Sekalian mampir ke apartemennya untuk numpang magriban, saya dan si Jepang ngopi di Atlas Coffee. Review tempat ini cukup bagus, aroma kopi dan rasanya yang enak membuat tempat ini tak pernah sepi. Rata – rata kopi di sini dihargai $4 setiap cup nya. Lumayan untuk sekedar menikmati sore melihat pemandangan di depan kedai yang hijau asri.
  1. Hajj Lane, Bugis Street
Dari apartemen si Jepang, berjalan keliling dan akhirnya saya memutuskan untuk membeli beberapa barang berkeliling Bugis Street dimana orang ramai berbelanja. Kebetulan saya tak terlalu banyak belanja karena memang niatnya backpackeran, hanya beberapa kaos kembaran dengan adek dan beberapa cemilan oleh – oleh. Yang penting muat di tas, ya namanya juga backpackeran bukan mau kulakan.

Day 4 (Minggu, 14 Februari 2016)
Checkout
Kembali ke hostel dan tak bisa tidur sepanjang malam karena dapat roommate di dorm ini yang semuanya ngorok tanpa henti membuat rencana saya hari berikutnya nyaris berantakan. Lumayan hari ini uang deposit saya hangus karena menghilangkan kunci kamar. Saya anggap itu jadi bagian dari cerita perjalanan ini.
Perjalanan saya lanjutkan ke Batam dengan menyebrang menggunakan kapal ferry, semoga akan ada lain kali untuk ke sini karena saya belum ke Orchard Road dan Little India yang terpaksa saya skip.

12743783_10205944478671070_1824716725974824509_n
   
 Overall, solo trip menyenangkan untuk dilakukan. Siapa bilang cewek ga bisa bepergian kemana mana sendiri, yang penting niat yang kuat dan adanya eksekusi. Kalau ga diawali dengan beli tiket secara random mungkin saya ga pergi – pergi, kalau selalu memberi opsi orang lain untuk mengubah rencana perjalanan maju atau mundur mana mungkin saya jadi berangkat.
Akan ada kalanya di mana kita ingin pergi dan tak ingin orang lain mengatur perjalanan kita, banyak hal yang didapatkan dari bepergian sendiri, mengenal banyak orang baru, pengalaman seru kesasar dan harus bertanya pada orang tak dikenal, kebablasan naik MRT dan banyak hal seru yang tak diduga terjadi.
   Terimakasih Singapore, birthday solo trip yang menyenangkan akan membawaku ke trip trip selanjutnya yang tak kalah berkesan dan menyenangkan. Mungkin solo trip ke Turki, Korea atau Eropa tahun depan, aminn.

Senin, 29 Februari 2016

The Hostel I Slept in Singapore


   Pergi sendiri dan nemu travelmate adalah pengalaman yang menyenangkan untuk dialami di negeri tetangga. Berawal dari kenekatan pergi yang Cuma pesan hostel semalam dan marathon ke hostel lain untuk dua malam berikutnya Alhamdulillah hasilnya menyenangkan nggak menyenangkan sih, setiap hostel punya plus dan minusnya sendiri dan dari tiga hostel punya kesannya sendiri.

      1.       5Footway Inn Hostel Chinatown
Hostel pertama yang kuinapi adalah 5 Footway Inn di Chinatown, lokasinya cukup strategis, jalan tak begitu jauh dari Chinatown MRT Station. Dengan harga sewa $19 untuk kamar dorm sebanyak enam orang, ruangan yang cukup nyaman dengan lampu individu di setiap bed dan colokan di samping tempat tidur cukup sebanding dengan harga yang dipatok. Fasilitas bersama yang bisa digunakan adalah kamar mandi dan ruang makan yang dibuat nyaman untuk sekedar ngopi ngopi cantik di malam hari. Tarif menginap semalam di hostel ini sudah termasuk sarapan berupa sereal, roti dan apel. Cukup menyenangkan kan?










       2.     5Footway Inn Aliwal Street near Sultan Mosque
Setelah check out dari hostel cabang Chinatown, aku beralih ke 5 Fottway Inn yang lain di sekitaran kawasan Bugis. Terletak di Aliwal Street, konsep 5Footway Inn di Aliwal lebih asik daripada di Chinatown. Sayangnya sih satu, karena kamarku jauh di lantai 3 dan tempat ngopi ngopi serta sarapan, serta toilet semuanya di lantai dua jadi cukup lumayan bikin mager turun apalagi waktu malas keluar kamar untuk sekedar ke toilet. 



 
 

Plusnya hostel ini adalah lokasinya yang berada di kawasan yang dekat dengan Arab Street dan Bugis membuat banyak spot wisata bisa kukunjungi. Sebenarnya karena lebih feel homey sih. Overall ini hostel favourite ku dari ketiga tempat yang kuinapi.
       3.       ABC Hostel in Jalan Kubor
Hostel ini tak jauh letaknya dari hostel kedua yang kuinapi. Karena dekat juga dan lokasinya yang strategis, menginap di ABC harusnya menyenangkan. Untuk fasilitas 5 footway menang telak. Tapi untuk colokan charger hostel ini tak menyusahkan kita yang datang dari Negara bercolokan dua lubang. Tak perlu repot repot membawa adaptor.


 


Minus tinggal di sini adalah aku dapat kamar dorm berisi 10 orang dan sebagian besar tukang ngorok berat. Dorm yang kudapat memang campur, jadi untuk tidur ya seperti di hostel sebelumnya aku berjilbab kemanapun pergi. Sayang sekali pengalamanku yang seharusnya menyenangkan menjadi buruk menginap di sini karena roommate yang ngorok. Bahkan uang deposit ku hangus karena sempat kehilangan kunci.

Itulah tiga hostel berbeda yang menjadi tempatku menginap selama solo trip ke Singapore. Terlepas dari nyaman atau tidaknya tinggal di sebuah hostel, itu tergantung selera. Happy travelling everyone ~