Jumat, 14 Agustus 2015

Being Happy in a Boring Office Life

 Bekerja dan berpenghasilan adalah hal ideal yang diidamkan dan semestinya dilakukan bagi orang dewasa. Banyak jenis pekerjaan baik yang sesuai dengan jenis kepribadian pekerjanya atau tidak. Pekerjaan yang memungkinkan kita melakukan moving ke banyak tempat menarik dan menyenangkan adalah hal yang sangat kuinginkan tapi tak dapat kulakukan. Karena pekerjaan yang kulakukan sekarang adalah pekerjaan statis dan berkutat di antara dua gedung kompleks ini dan seputar kubikel sempit tempat dudukku. Pekerjaan yang berulang dengan siklus yang sama dan suasana yang begini begini saja adalah pekerjaan yang sangat tidak cocok dengan kepribadianku yang tak bisa diam di satu tempat dalam waktu lama.
   Pekerjaan dan pernikahan, sama sama membutuhkan komitmen. Dalam pernikahan komitmen tinggi dan loyalitas tinggi adalah hal yang wajar dan memang manusiawi untuk dilakukan sepasang manusia. Dalam hal pekerjaan, berkomitmen tinggi dan selalu menjunjung tinggi pekerjaan memang perlu, tapi tak selalu baik untuk dilakukan. Terlalu berpaku pada pekerjaan sampai lupa waktu istirahat, mengesampingkan makan demi pekerjaan yang belum sempurna tuntas, dan menunda waktu pulang demi bisa menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk adalah hal yang tidak sehat untuk terus menerus dilakukan. Kamu bukan robot yang bekerja tiada henti, kamu manusia yang perlu istirahat dan makan. Jangan terlalu mementingkan pekerjaan dan tempatmu bekerja, cintai pekerjaanmu seperlunya dan hiduplah seperti manusia. Seperti kata pepatah 

" Love your job, but don't love your company. You don't know when your company stops loving you"

Damn it's true! Memang benar mencintai pekerjaan adalah hal yang baik, tapi jangan terlalu mencintai tempatmu bekerja karena kau tak tau kapan tempatmu bekerja berhenti mencintaimu. Ketika tiba waktu tak terduga kau sakit, akan ada penggantimu tanpa harus menunggu kembalimu kapan. Bagi Pe en es macam kami, sakit ataupun tidak, negara akan tetap berjalan.
   Porsi dan jam kerja yang normal adalah 5 hari seminggu dan 8 jam kerja setiap harinya. Setelah keluar peraturan baru yang mengharuskan pegawai lembur dari sekian waktu kerjanya menjadi 11,5 jam sehari, hal ini terasa sangat abnormal dan tidak manusiawi. We aren't robot that you can use and throw away when unneeded. Datang ke kantor ini sebagai jomblo dan harus menambah jam kerja di sini lagi, di sini lagi, kapan ada tambahan waktu bersosialisasi di luar, sempat keluhan ini kurasakan. Sedihnya, beban kerja dan gaji begini amat ya. Tapi mengeluh terus menerus bukan hal yang bijaksana. Bekerja ikhlas dan manfaatkan sela - sela waktu untuk hal berguna adalah hal yang lebih bijaksana. Dan akhirnya peraturan jam kerja yang mengharuskan kami pulang malam dicabut. Bahagianyaaaa ~
   Datang kerja dengan pakaian sesuai peraturan, pulang setelah waktunya, bukanlah hal yang sehat. Setelah waktu kerja berakhir, pulanglah tepat waktu, meskipun tidak di rumah dan bersama keluarga, banyak hal lain yang bisa dilakukan selain hanya bekerja, jogging, jalan - jalan dan memanjakan diri sendiri adalah hal yang bisa dicoba. Dunia kerja dengan kegiatan monoton adalah  hal yang membosankan. Dengan sedikit kreativitas bisa dicoba untuk membuat suasana kerja lebih menyenangkan, berpakaian dengan sentuhan yang berbeda bisa membuat moodku lebih ceria. Merencanakan liburan ke tempat yang baru dan terus memanfaatkan weekend agar lebih bermanfaat dan bermutu adalah cara yang bisa dilakukan agar dunia kerja yang terus menerus seprti ini tak membuatku gila. Selain itu menyisipkan project pribadi di sela kebosanan kerja adalah hal yang harus dilakukan untuk menjaga kewarasan. Misalnya dengan belajar bahasa asing, menulis blog, atau nyicil membuat rencana perjalanan, dan masih banyak hal lain yang bisa dilakukan.
   Ingat kembali apa tujuan bekerja, ingat orangtua dan cita - cita jangka panjang yang belum terkejar dan terlaksana.

So why don't we try to live happier in this boring office life?
Independent is being the master of myself and my own time ~


a worker in cubicle,
Anggi R. Dewi

Senin, 10 Agustus 2015

Mangrove and Lamaru beach, 2nd week trip in Balikpapan ~



   Dua minggu sudah aku hidup di Balikpapan, dari yang awalnya ngenes, ngeluh mahal, sekarang mulai betah dan bisa memilah barang mana yang dibeli di sini, mana yang bisa dibeli nanti kalo pulang ke Jawa (perhitungan dikit gapapa ya) dan mana yang ga perlu. Biaya hidup di Balikpapan memang tinggi dan gaya hidup di sini kebanyakan konsumtif, harus mulai atur strategi apalagi status gaji masih gaji anak magang yang cuma dapat uang tali kasih sekian rupiah sambil nunggu rapelan yang belum kunjung datang.
   Two weeks I’ve ben living in Balikpapan, suffering at first, shock for the lifecost here, now I start to love being here and wise about buying things which to buy here, which to buy in Java (sorry for fastening my seatbelt). Lifecost in Balikpapan is extremely high and most of people lifestyle here is consumptive. I should have strategy since my salary is still under level while waiting for the full payment that hasn’t come yet.


   Kerja di kubikel sempit, bergaul dengan kertas, mesin fotocopi, printer dan dokumen bisa membuat hidup berantakan bila tak pintar mengatur waktu luang. Alhamdulillahnya dua minggu di sini, dua weekend pula bisa jalan – jalan, dan gratisan kekeke. Sabtu ini, rencana touring motoran sepertinya batal karena motor kurang dan faktor kondisi medan jalan yang jauh. Untungnya mbak Resti diajak temennya dan disuruh ngajak cewek buat ngramein acara jalan orang Kanwil ke Sungai Wain. Ternyata itu kawasan hutan lindung yang lumayan terkenal. Akhirnya ke Kalimantan juga (baca masuk hutan). Di kawasan hutan lindung Sungai Wain ini pernah ada kejadian menggegerkan setelah ada seorang nenek dimakan buaya dan ada juga bule nyasar setelah seminggu mengeksplor hutan tanpa pemandu. Serem banget.
   Working in a small cubicle, being around paper, fotocopy machine, printer and documents can drive me crazy If I don’t organize my spare time well. Alhamdulillah two weeks staying here, these two times I got chances to have free trips kekeke. This Saturday, motorcycle touring that had been planned being cancelled due to transportation reason and the track that’s not friendly for motor users. Lucky me, Mbak Resti was invited by her friend to join a trip to accompany Kanwil buddies go to Sungai Wain and I can join. This forest is famous and finally I am entering Borneo (go to forest). In the area, once there was a granny being eaten by crocodile and there was a foreigner who lost the way for whole week while exploring the forest alone. How scary!


   Sabtu pagi setelah akhirnya jelas bakal jalan, kami bertujuh, tiga orang kasi kantor sebelah, mas Banu, mbak Resti, aku dan Arum berangkat ke Sungai Wain. Jalannya lumayan keriting bergelombang, katanya sih karena kontur tanah di sini labil jadi mesti jalan pelan – pelan. Sampailah kami ke Sungai Wain setelah jalanan mulai dekat hutan. Sayangnya kami ketinggalan guide yang memandu kelompok sebelum kami datang, satu guide sedang off dan satu lainnya memandu rombongan bule. Cuma sempat foto di depan gerbangnya dan kami ganti tujuan pada akhirnya. Daripada nekat mengeksplore hutan tanpa pemandu, bahaya juga kalo ketemu buaya, monyet liar atau ular bisa diserang kan berabe juga. Kami mampir ke soto lamongan dan memutar balik arah ke hutan mangrove.


   Saturday morning finally we are having trip, seven in total, three chiefs, mas Banu, mbak Resti, me and Arum go to Sungai Wain. The roads are pretty unstable and wavy, people said it’s because the contur  and we have lower our speed. Here we are arrive in Sungai Wain after reaching the forest. Unfortunately we are one step later after the guide takes another group to the forest, another guide is off and one left is taking the foreigners group. Just take photo in front of the gate and we change the destination after that. We don’t wanna be eaten by crocodile if going there carelessly. Stop to eat at Soto lamongan then change direction to mangrove forest.





Yeaay! Tak ada hutan lindung, hutan mangrove pun jadi. Untuk bisa ke sini kita harus buat janji dulu karena jumlah perahu  boat yang terbatas. Alhamdulillahnya kami kebagian bisa datang ke sini. Naik ke boatlah kami setelah beres mengenakan pelampung. Sepanjang kanan kiri sungai yang berarus tenang kami melihat pohon – pohon mangrove di sini tumbuh dengan bebas, dan di sini lumayan terjaga asri, tak terlihat banyak sampah mengapung sepanjang jalur. Cuaca sedikit berawan, lumayan lah daripada terang benderang kulit ini semakin sunkissed aja. Dari pinggiran sungai terlihat bekantan berlarian dan memanjat pohon satu ke yang lainnya. Mampir ke warung kopi setelah sampai daratan lagi, foto – foto juga sih.
Yeaay! No forest, there’s mangrove area. We have to make appointment before coming here due to the limited boat we can use. Alhamdulillah we are in! Jump off to the boat after wearing the lifejacket. Along the riverside we can see how mangrove grow freely and the place is quite natural, no garbage being threw away. The weather is a bit cloudy, lucky us we don’t really get our skin sunkissed. Look at the riverside and see how bekantan (monkey) run and climb one to another trees. Having a cup of coffee after coming back, taking pictures too.




Pulang sebelum ashar, lumayan bisa tidur siang. See you in another trip ~
Going home before ashar, take a nap ~ See you in another trip


Minggu/ Sunday


 
Bangun kesiangan, jogging tetep harus dilakukan lah ya. Udara pagi, suasana Dome yang ramai orang senam, jalan, lari atau sepedaan lumayan menghibur Minggu pagi. Siang atau sore aku, mbak Res, Arum, Icang dan Udik (sebut saja begitu) rencananya bakal ke vihara berburu spot foto bagus dan ternyata ada tawaran jalan ke pantai Lamaru berburu sunset.

Waking up late, jogging is a must do thing. Morning air, Dome’s atmosphere crowded by people who do the gymnastic, walking around, run, or ride the bicycle gives a moodboost in Sunday morning to me. This afternoon, me, mbak Rest, Icang and Udik (not the real name) have a plan to go to vihara hunting for photo spot. And here it comes the offering to go to Lamaru.


Bersembilanlah kami (berlima tadi plus Oliv, Andika dan Ismul) akhirnya jalan ke pantai naik mobil Oliv.  Pantai Lamaru memang tak sebiru pantai di pulau jawa tapi suasana di sini asik dan bersih, deretan pohon rapi dan menyenangkan untuk dilihat (mbayarnya juga lumayan sih). Sebentar saja kami main air dan foto – foto, ngorek – ngorek sarang kepiting dengan isengnya, maen pasir, dan pulang sebelum gelap sambil karaokean di mobil. Sebenarnya pengen lama – lama, pengen maen air basah – basah tapi waktu mepet . Well, that’s how my weekend ends. 

   
Nine of us (us five plus Oliv, Andika and Ismul) finally go to Lamaru beach for hunting sunset using Oliv’s car. Lamaru beach is not as blue as beaches in Java land but the mood here is good and clean, tidy trees and wellplanted ( the ticket price is also higher). We don’t stay long playing around, just several minutes to play, take pictures, digging the hole, play the sand and go hoe before it’s getting darker while singing along the way home. Actually, we still wanna spend time longer there, get wet, but the time we have is not long enough. Well, that’s how my weekend ends.

Living in Balikpapan, so far so good.. Let’s seek another chance to have a trip :D

Anggi R. Dewi



Senin, 03 Agustus 2015

First Week in Balikpapan!

Pantai Melawai waktu surut
   Halo Balikpapan, kota yang banyak gunung tapi cuma nama kawasan, kota yang konturnya naik turun dan menantang,kota yang katanya apa – apa dibalik bisa jadi papan, seminggu sudah aku jadi pendatang di kotamu. Perasaan shock dan hal – hal menyedihkan di awal kedaatangan mulai minggir satu persatu, seminggu sudah rasanya aku sudah lebih bisa legowo dan bahagia hidup di sini. Ya walaupun masih ada kangen kangen sama pulau jawa dan seisinya, tapi hidup di sini adalah kenyataan yang harus dijalani dengan riang gembira. Diawali dengan keadaan kamar yang sudah selesai ditambal dan bisa ditempati, telinga kiri ku yang sempat budeg sudah mulai baikan (walaupun masih budeg sih), dan  mulai paham ngebandingin harga barang adalah sekian hal yang patut disyukuri.
   Jumat datang, hari terbahagia minggu ini lah ya ketemu weekend. Kerja juga moodnya udah mood libur aja, weekend pertama pasca kerja di tengah kesemrawutan. 


Sabtu pagi jalan santai ke dome bareng mbak Resti sama Arum, ke taman lansia (walaupun kami masih muda) yang lumayan sepi dan adem, makan bubur ayam harga 14rebu T.T tapi enak plus penjualnya dakwah. Masih ga terima sih, bubur lho 14 ribu, bubur berlian inimah -___-  

jalan di sini sakitnya minta ampun

taman lansia, segerrrr ngets udaranya ~

kandang burung di taman
jalanannya masih banyak pohon yeaay
ini dia dome nya ~
   Dan rencana diajak keliling kota bareng senior STAPALA akhirnya terlaksana. Kumpul di tempat Mbak Rahma, ada kak Kace, kak Rawon juga, suami dan anak mbak Rahma, plus Andika, Ismul jalanlah kami keliling kota. Yeaay! Alhamdulillah ya weekendnya ga wasted di kosan :D
   Liat pemandangan kota yang masih ada hutannya di kompleks Pertamina, sambil mangku Rana, anak bungsunya mbak Rahma yang cute banget. Ya ampun, udah pantesnya kali ya aing punya anak :” wkwkwk   Kota Balikpapan ini sebenernya nyenengin, rapi dan bersih kalo dibanding Jakarta. Ya cuma lebih mahal sih dari segi biaya hidup dan maintenance nya hahaha. 

pantaaainya lagi surut

Kami diajak lewat Kompleks Pertamina, liat sepanjang jalan gentong – gentong raksasa mereka berisi minyak, rumah mereka menyatu dengan alam, wiiw enaknyaa, adem kaya di Bogor rumah di sini. Menyusuri sepanjang jalan di kawasan Klandasan dan muter kota yang kawasannya dekat laut, panas mulai terasa menyengat dengan teganya. Setelah duhuran kami ke Pantai Melawai yang airnya lumayan surut, ada Pulau Babi di dekatnya walaupun di pulaunya ga ada babinya sih xD Lumayan lah daripada ga kemana mana, biar jadi anak hits Balikpapan ya.
Tujuan selanjutnya setelah ke E-walk, mau ngemall galau, keluar lagi dan ke pantai lagi. Anak gunung sekarang jadi anak pantai, duh makin eksotis ini mah. 


balapaaan naek ini
Pantai Indah apa pantai Indra lupa namanya, pantainya ga begitu bagus sih, lebih tepatnya kotor karena sampah *sedih* tapi maen ke sini bahagia banget. Setelah mlongo cuma duduk duduk ditiup angin, naik Atv lah kami. Yeaaaay! Bahagia banget ngebut ngebut sepanjang garis pantai balapan atv :”” maklum biasanya liatnya gunung sih.
Sore menjelang, Rana, Fadil, Awan mulai lelah, aku juga sih. Niat nyamperin mbak Wulan ke tempatnya nginap akhirnya batal ketemu. Matahari terbenam sudah, setelah makan malam waktunya pulaaang. Terima kasih senior senior yang baik hati, anak kosan sudah tra bingung lagi sama kota ini ~

thanks for todaaay~

   Minggu tiba, hati tak segembira kemarin. Besok Senin! Agenda hari ini wajib terlaksana, belanja~ Setelah bermalasan di kosan, nonton film, nulis diary, bersih – bersih dan nyuci, belanja adalah hal yang menyenangkan. Bersyukur banget ada Giant di sini, harga barangnya tak jauh beda dengan di Jawa biarpun tak semurah Harmoni swalayan di Bintaro sana *mulai baper*. All hail Giant~ Setelah belanja, beli gas dan beresin urusan dapur, hari terakhir weekend ini terasa berguna.Huff  Senin, harus siap kerja wahai budak negara. Se- ma- ngat ~~